Langsung ke konten utama

Postingan

Bulan.

  peakpx.com Ia yang mengagumi bulan Akan tetap mengaguminya Meski ia sabit, setengah maupun purnama Pun rupa yang tak seindah namanya  Bulan tetaplah bulan; Dalam kegelapan, Cahayanya senantiasa terjaga Menerangi mereka yang terlelap Dan tak pernah  mengharapkan kehadirannya -M Serpong, 29 Agustus 2024

Temu.

cometlog.com Ada sepasang mata yang dibuat basah Selepas hujan datang menyapa  Rintiknya datang secara beriringan Melewati sebuah rumah tanpa atap Dengan tiang-tiang yang rapuh  Dan dinding penuh retak  Hingga membuat basah kuyup; Jiwa-jiwa yang diselimuti rasa rindu Sebab, Ada segenggam doa penuh haru Di sepertiga malam tanpa temu Hanya melangit menjadi debu Dan tak pernah tersampaikan, pada sang waktu -M Serpong, 19 Agustus 2024

Juli.

Vectorstock.com Tahukah kamu? 365 hari telah melewati masanya Ada langit yang kembali bertemu jingganya Ada pelangi yang kembali bertemu biasnya Ada mata yang kembali berbinar cahayanya Ada jiwa yang kembali bertemu rumahnya Tak ada lagi penyesalan karena hati yang patah Tak ada lagi rindu yang harus menyerah Tak ada lagi hati yang mengaku kalah Sebab kini, Juli-ku kembali berwarna.  -M  Serpong, 19 Juli 2024

Sandiwara.

wordpress.com  Ada tak yang pandai bersandiwara  Menghadapi dunia yang fana Banyak duka yang tersimpan dibalik tawa Banyak luka yang tersembunyi dibalik raga Banyak air mata yang berlinang tak berdaya Menghiasi merah-jingga cakrawala Hingga senja itu menjadi tanda Semesta hanya meninggalkan;  Luka dan tanya. -M Serpong, 25 Juni 2024

Takdir.

pinterest.com Jangan menggenggam Yang tak muat di tangan Jangan mengejar  Yang langkah kakimu tak sampai Segala yang menjadi takdirmu Tak akan kemana Segala yang menjadi rezekimu Pasti sampai juga -M  Serpong, 22 Juni 2024

Jejak Hatiku di bulan Juni

Stock.adobe.com B erawal dari malam yang kelabu. Gumpalan awan hitam menyelimuti langit Jakarta  malam itu. Hujan turun dengan derasnya sepanjang hari tanpa henti. Langit menumpahkan air mata, seolah ikut larut dalam peristiwa hari itu. Suara petir yang menggelegar,   saling beradu menggetarkan muka bumi. Aku terperanjat kaget, meraih sebuah bantal dari ranjang single ku, lalu menutup telingaku rapat-rapat. Bukan, bukan karena aku takut dengan suara petir. Tapi aku hanya takut, jika suara cacian dari kedua orangtuaku kembali terdengar di telingaku. Aku menggigit bibir bawahku dengan kuat. Terasa getir. Perlahan, darah mulai mengalir dari bibirku. Bahkan rasa getir dari darahku tidak mampu mengalahkan kegetiran hidupku saat ini. Aku meraih sweaterku, lalu menyelinap keluar rumah lewat pintu belakang, agar tidak ada yang mengetahui kepergianku malam itu. *** Tubuhku gemetaran. Aku   kembali merapatkan sweater merahku. Rambutku basah kuyup karena terguyur hujan, ba...

Gelembung Harapan.

freepik.com Dalam bising dunia Kutiupkan gelembung ke udara Kubiarkan ia melayang di angkasa Hingga meletup dirinya Dan meninggalkan jejaknya Di ruang-ruang fana Membawa sejuta harapan penuh tanya; Langkah kaki ini hendak dibawa kemana? -M Serpong, 21 April 2024.