Secangkir Matcha.

pexels.com

Secangkir matcha di tanganku.


Hijau, pahit,

 seperti hari-hari

 yang tak pernah berjanji

 selalu manis.


Kuminum perlahan hingga habis.


Namun,

 cangkir tak pernah mengeluh.

 Ia kosong dan tetap ada,

 memberi ruang untuk diisi kembali.


Mungkin hidup juga begitu:

 habis diteguk waktu,

 dipenuhi kepahitan dan kehilangan,

 lalu tetap memilih tinggal.

-M 


Serpong, 29 September 2026

Komentar