Langsung ke konten utama

Postingan

Musim.

Postingan terbaru

Kursi Kosong di Meja Nomor Tujuh.

pexels.com Meja nomor tujuh selalu rapi, bahkan sebelum restoran benar-benar buka. Aku hanya memastikan taplaknya lurus, gelas air diisi setengah, dan diletakkan berhadapan. Satu kursi sedikit ditarik ke belakang, seolah seseorang baru saja berdiri dari sana. “Kenapa selalu dua?” tanya Ryan sambil menyusun sendok di meja sebelah. Aku mengangkat bahu. “Reservasinya memang dua.” “Orangnya mana?” Aku tidak menjawab karena aku juga tidak tahu. Hampir setiap sore, telepon restoran akan berdering di waktu yang hampir sama—sekitar pukul lima lewat sedikit. Suara di ujung sana, siapa pun itu, selalu mengatakan hal yang sama. “Reservasi untuk dua orang. Meja nomor tujuh.” Kadang suaranya perempuan, lembut dan pelan. Kadang laki-laki, terdengar berat dan tegas. Pernah juga suara orang tua, seperti menahan napas di setiap kata. Tapi semuanya meminta hal yang sama. Dan tidak satu pun dari mereka datang. Awalnya aku mengira ini hanya kebetulan. Lalu kupikir mungkin ada orang iseng. Tapi Bu Retno, p...

Jingga.

pexels.com "Bunda!" Gadis kecil itu berlari ke arahku sambil tersenyum riang.  "Lihat, deh!" Mataku mengikuti arah telunjuknya, menuju atap rumah seng yang memantulkan cahaya senja.   "Lihat apa, Nak?" "Bunda, itu warna aku, ya?" tanyanya polos.  Aku tersenyum, meski lelah dari seharian mencuci belum juga luruh.   “Iya, Nak. Langitnya lagi mirip kamu." Jingga tertawa kecil, lalu duduk di depan rumah petak kami, rumah sempit berdinding tripleks dengan atap seng berkarat, yang berdiri di tengah permukiman padat dan tetap terasa hangat baginya. Senja adalah waktu favorit Jingga. Bukan karena ia mengerti maknanya, melainkan karena langit berubah menjadi warna kesukaannya.  Ia belum tahu banyak tentang dunia. Ia belum mengerti apa itu kemiskinan. Ia juga tidak tahu mengapa ibunya kerap menghitung uang dengan wajah cemas. Yang ia tahu, rumahnya adalah tempat paling aman di dunia.  Di sudut ruang itu, Jingga sering tertawa karena hal-hal kecil, men...

Satu Kata Ajaib.

  republika.co.id Aku pernah percaya ada satu kata sederhana yang bisa membuat hidup terasa lebih ringan. Aku menemukannya tanpa sengaja—di halaman terakhir buku catatan milik Ibu. Kertasnya sudah menguning, sudut-sudutnya mulai melengkung di beberapa bagian. Di antara daftar belanja dan angka-angka pengeluaran, ada satu kata yang ditulis lebih besar dari yang lain, ditebalkan dengan tinta merah. “Sabar.” Aku sempat tersenyum. Kata itu terlalu sering diucapkan saat orang tak tahu lagi harus berkata apa. Tapi entah mengapa, melihat tulisan tangan Ibu, kata itu terasa berbeda. Tidak sekadar nasihat, lebih seperti sesuatu yang pernah ia pegang erat. *** Pagi itu halte busway penuh seperti biasa. Orang-orang berdiri rapat, sebagian melongok ke arah jalan, sebagian lagi sibuk dengan ponsel mereka. Semua tampak ingin segera naik lebih dulu. Di tengah kerumunan, aku melihat seorang ibu paruh baya. Tubuhnya sedikit terhimpit di antara barisan pekerja kantoran. Begitu bus data...

Kaos Kaki Ajaib.

     K aos kaki itu sering hilang. Bukan hilang karena dicuri, hanya menguap saja seolah embun yang lupa ke mana ia jatuh. Aku sudah terbiasa menemukan pasangannya tertinggal sendirian di laci, menggulung sendiri seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung pulang.       Anehnya, kaos kaki yang hilang itu selalu kembali. Kadang muncul di balik tas kerja yang tak ku buka berhari-hari, kadang terlipat rapi di atas kasur. Padahal aku yakin tidak meletakkannya di sana. Tidak bau apek, juga tidak kusut. Justru hangat, seperti baru dijemur di bawah terik matahari.      Setiap kali ia kembali, aku sedang berada di hari yang paling melelahkan. Hari ketika kakiku ingin berhenti melangkah, dan pikiranku melayang entah ke mana. Seolah kaos kaki itu tahu: aku tak sedang kehilangan benda, hanya kehilangan arah.       "Kaos kakimu hilang lagi?" tanya Ria suatu pagi. Matanya melirik kakiku yang hanya terbalut satu kaos k...

Perempuan Berpayung Senja.

adobe.com Secangkir kopi hitam masih tersaji hangat di hadapanku. Aroma Americano menyengat hingga ke kepala. Suara klien dari balik ponsel masih berputar-putar di telingaku. "Sial! Ditolak lagi." Aku menyeruput cairan pekat itu dengan perasaan getir. Rasa pahit dan asam saling beradu di kerongkongan. Sudah keempat kalinya aku memperbaiki desain website sesuai permintaan klien. "Bukan font itu." "Biru saja latarnya." "Besok harus sudah jadi." Tut. Sambungan terputus begitu saja. Aku menatap layar ponsel yang kini gelap, lalu menghela napas panjang. “ARGH!!” Aku membanting ponselku ke sofa dengan kesal. Tanpa kusadari, ada sepasang mata yang melirik ke arahku dengan bingung, sebelum kembali berkutat dengan laptop di hadapannya. *** Aku melirik jam tangan. Pukul empat lewat lima belas menit. Tak terasa sudah tiga jam aku berkutat dengan laptop. Aku segera menutup laptop dan berkemas, lalu bergegas menuju pintu keluar kafe.  Namun, kesialan seolah ...

Selamat Ulang Tahun.

vecteezy.com  Hari ini semesta merayakanmu, dengan caranya yang sederhana— hembusan angin yang lembut, langit yang lebih biru, dan doa-doa yang diam-diam mengiringi langkahmu Aku tak selalu bisa dekat, tapi dalam diam, ada doa yang tak pernah berhenti: semoga langkahmu aman, semoga hatimu tenteram, semoga semua yang kau rindukan datang pada waktunya Selamat ulang tahun— Semoga hari-harimu penuh kebaikan, dan setiap detik hidupmu selalu dipeluk kasih Tuhan. -M  Serpong, 28 September 2025