pixabay/blickpixel S ejak tadi, aku hanya mengaduk-ngaduk secangkir teh manis di depanku sambil memandangi langit di luar sana. Sore ini, langit terlihat mendung. Langit terlihat gelap diselimuti awan tebal yang hitam pekat. Pertanda bahwa hujan segera turun kembali. “Kei..” Suara itu menyadarkanku dari lamunan. Agatha Keinata atau akrab dengan panggilan Kei. Nama yang unik pemberian Mama, dan aku menyukainya. “Sedang mikirin apa? Kok melamun?” Aku mengangkat sedikit wajahku , lalu menggeleng sambil tersenyum menatap wanita di sampingku. Suara itu berasal dari Malaikat Pelindungku, Mama. “Nggak kok Ma, Kei nggak apa-apa,” balasku sambil tersenyum. “Ya sudah, setelah ini kamu ke bawah ya. Papa sudah menunggu di meja makan,” kata Mama lalu...
Aku ingin tahu bagaimana cara mereka mengenangku, atau sekedar mengingatku lewat sebuah tulisan.