Langsung ke konten utama

Kursi Kosong di Meja Nomor Tujuh.

pexels.com

Meja nomor tujuh selalu rapi, bahkan sebelum restoran benar-benar buka.

Aku hanya memastikan taplaknya lurus, gelas air diisi setengah, dan diletakkan berhadapan. Satu kursi sedikit ditarik ke belakang, seolah seseorang baru saja berdiri dari sana.

“Kenapa selalu dua?” tanya Ryan sambil menyusun sendok di meja sebelah.

Aku mengangkat bahu. “Reservasinya memang dua.”

“Orangnya mana?”

Aku tidak menjawab karena aku juga tidak tahu.

Hampir setiap sore, telepon restoran akan berdering di waktu yang hampir sama—sekitar pukul lima lewat sedikit. Suara di ujung sana, siapa pun itu, selalu mengatakan hal yang sama.

“Reservasi untuk dua orang. Meja nomor tujuh.”

Kadang suaranya perempuan, lembut dan pelan. Kadang laki-laki, terdengar berat dan tegas. Pernah juga suara orang tua, seperti menahan napas di setiap kata. Tapi semuanya meminta hal yang sama.

Dan tidak satu pun dari mereka datang.

Awalnya aku mengira ini hanya kebetulan. Lalu kupikir mungkin ada orang iseng. Tapi Bu Retno, pemilik restoran, tidak pernah mempermasalahkannya.

“Biarkan saja,” katanya ringan saat aku menyinggung soal itu. “Nanti juga ada yang datang.”

“Tapi tidak pernah ada, Bu,” jawabku.

Ia hanya tersenyum. “Belum saja.”

Aku tidak pernah benar-benar mengerti maksudnya.

Restoran kami tidak besar. Hanya beberapa meja kayu, lampu-lampu temaram yang sengaja dibuat agak redup, dan jendela besar yang menghadap ke jalan. Cahaya senja memantul di kayu, menyisakan hangat untuk para tamu. 

Meja nomor tujuh ada di pojok dekat jendela itu. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup nyaman untuk orang-orang yang ingin duduk lama.

Mungkin itu sebabnya aku selalu merasa ada sesuatu yang tertinggal di sana.

Bukan barang. Bukan suara. Tapi… sesuatu.

Kadang, saat restoran hampir tutup, aku berdiri lebih lama di dekat meja itu. Tidak melakukan apa-apa, hanya memastikan semuanya tetap di tempatnya.

Pernah suatu malam, aku merasa seperti ada yang ingin mengatakan sesuatu. 

Aku sempat menoleh, memastikan tidak ada siapa-siapa.

Tapi meja itu tetap kosong.

Hanya dua cangkir yang tak benar-benar dipakai, dan satu kursi yang selalu sedikit ditarik ke belakang.

Seolah-olah, seseorang pernah duduk di sana dan belum benar-benar pergi.

***

Sore itu, menjelang pukul lima, hujan turun lebih awal. 

Restoran belum terlalu ramai. Hanya ada dua meja terisi. Aku sedang mengelap gelas ketika pintu terbuka pelan.

Seorang laki-laki masuk.

Ia tidak langsung melangkah. Ia sempat berdiri di dekat pintu, menatap ke dalam. Rambutnya sedikit basah oleh hujan. Kemeja hitam yang ia pakai tampak rapi, tapi kusut di beberapa bagian, seperti sudah dipakai seharian.

“Mas?” panggilnya.

Aku menoleh, lalu mengangguk kecil.

“Masih ada meja?” tanyanya.

“Masih, Pak. Silakan.”

Ia melangkah masuk dan melihat sekeliling sebentar. Lalu berhenti di meja nomor tujuh. 

“Yang itu… masih kosong?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk. “Iya, Pak.”

Ia berjalan ke sana tanpa ragu, seperti sudah tahu letaknya sejak lama.

Ia duduk di kursi yang menghadap jendela. Kursi di depannya tetap kosong.

Aku mengambil buku catatan kecilku dan mendekat.

“Mau pesan apa, Pak?”

Ia membuka menu, tapi tidak benar-benar membacanya. Jemarinya hanya menahan halaman yang terbuka.

“Dua kopi hitam,” katanya akhirnya.

Aku menunggu.

“Satu tanpa gula,” lanjutnya. “Satu pakai sedikit gula.”

Aku mencatat.

“Keduanya panas,” tambahnya pelan.

“Baik, Pak.”

Saat aku berbalik, aku sempat melihatnya menggeser salah satu cangkir kosong sedikit lebih dekat ke kursi di depannya.

Ketika aku kembali membawa pesanannya, ia sedang menatap keluar jendela. Hujan masih turun, lebih deras dari sebelumnya. 

“Silakan, Pak.”

Ia menoleh, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih.”

Aku meletakkan dua cangkir di meja. Ia langsung mendorong salah satunya ke depan kursi kosong.

“Ini punyamu,” katanya pelan.

Aku tidak bergerak, tidak juga bertanya.

Aku hanya mengangguk kecil, lalu pergi.

***

Sore itu berjalan lambat.

Pelanggan datang dan pergi, tapi meja nomor tujuh tetap seperti dunia kecilnya sendiri. Ia hanya sesekali menyeruput kopi, lalu meletakkannya kembali.

Ia lebih sering diam, menatap kursi kosong di depannya.

Ada satu momen ketika aku melihatnya tersenyum. Senyum yang tipis, tapi cukup membuatku merasa ia tidak sendiri. Seolah ada yang berbicara padanya.

Aku menahan diri untuk tidak terlalu sering melihat ke sana. Tapi entah kenapa, mataku selalu kembali.

Seperti ada sesuatu yang belum sempat selesai.

Hampir satu jam berlalu.

Hujan mulai reda, menyisakan jalanan yang basah dan udara yang lebih dingin. Laki-laki itu mengangkat tangan, memanggilku.

Aku mendekat.

“Bisa minta bill?” tanyanya.

“Bisa, Pak.”

Aku menghitung cepat, lalu kembali dengan struk.

Dua cangkir kopi itu sudah tidak panas lagi. Yang satu berkurang sedikit. Yang satu lagi hampir tidak tersentuh.

Ia menatapnya sebentar sebelum mengeluarkan dompet.

“Sering ya,” katanya tiba-tiba, “meja ini dipesan tapi kosong?”

Aku terdiam sejenak.

“Iya, Pak,” jawabku akhirnya.

Ia mengangguk pelan, seperti jawaban itu sudah ia duga.

“Dulu,” katanya, “istri saya suka duduk di sini.”

Aku tidak menyela.

“Katanya tempat ini tenang. Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi.” Ia tersenyum kecil. “Cocok buat duduk lama.”

Ia berhenti sebentar, menatap kursi di depannya.

“Setiap kali kami janjian, dia selalu datang lebih dulu. Duduk di situ.” Ia menunjuk kursi kosong itu. “Pesan dua kopi. Menunggu saya.”

Aku mencoba menangkap maksudnya.

“Saya hampir selalu terlambat,” lanjutnya. “Kerja, macet, atau sekadar… menunda.”

Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang terasa berat di dalamnya.

“Sampai suatu hari, saya tidak datang sama sekali.”

Aku tidak bertanya. Tapi ia tetap melanjutkan.

“Kecelakaan,” katanya singkat.

Hening sejenak di antara kami.

“Sejak itu,” ia menarik napas, “saya sering berpikir… berapa banyak orang yang sebenarnya ingin datang, tapi tidak sempat.”

Ia meletakkan uang di atas meja.

“Jadi saya mulai menelepon,” katanya. “Reservasi meja ini.”

Aku menatapnya.

“Bukan cuma untuk saya,” tambahnya pelan. “Untuk siapa saja yang mungkin… masih ingin duduk di sini. Walau hanya sebentar.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Ia berdiri, merapikan kursinya.

“Terima kasih,” katanya. “Sudah menyiapkan tempat ini.”

Aku hanya bisa mengangguk.

Ia lalu pergi, melewati pintu yang masih menyisakan dingin hujan.

Restoran kembali seperti biasa.

Suara sendok beradu pelan. Obrolan ringan dari meja lain. Musik yang mengalun pelan di sudut ruangan.

Tapi meja nomor tujuh terasa berbeda.

Aku menghampirinya. 

Dua cangkir kopi masih di sana. 

Aku meraih salah satunya, yang hampir tak tersentuh.

Tanganku sempat berhenti.

Aku tidak langsung membawanya ke dapur. Hanya berdiri, menatap kursi kosong itu.

Aku menarik napas pelan, lalu berbisik, “Maaf ya… sudah menunggu.”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara sisa hujan dari ujung atap. Kali ini, meja nomor tujuh terasa begitu hangat.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

De Buron - Maria Jaclyn

PROLOG "Kalau kamu menyayangi seseorang, kamu enggak harus bersama dia untuk menjadi bahagia.Walaupun kalian berpisah,kamu pasti akan bahagia kalau melihatnya bahagia. Kurasa caramu menjadi bahagia salah, karena kulihat sekarang kamu cuma menyakiti dirimu sendiri," kata Ditya lagi.  Judul: De Buron Penulis: Maria Jaclyn Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2005 Jumlah Halaman: 248 Halaman Kategori: Novel ISBN: 979-22-1396-1 Ukuran: 20 cm x 13,5 cm Harga: Rp 26.500,00     Pernah nggak sih kalian ngerasain betapa takutnya didatangi oleh  "Buronan" ? Cemas, Takut, Khawatir pasti menghinggapi perasaan kalian. Perasaan yang serupa timbul pada diri Kimly, cewe baik dan supel, ketika sosok pria bernama Raditya datang ke kehidupannya, hingga akhirnya Ia menyadari akan suatu hal pada sosok Ditya. Novel “De Buron” merupakan salah satu novel romance berbakat karangan Maria Jaclyn,penulis novel berbakat tahun 2005. Novel ini mengangkat ...

Walk Away - Dilaika Septy

Judul                :  Walk Away Penulis             :  Dilaika Septy Penerbit           :  Bentang Belia ( PT. Bentang Pustaka ) Terbit               :  November 2012 ISBN               :  978-602-9397-57-4 Tempat Terbit  :  Yogyakarta Tebal Buku      : VIII + 204 hlm ; 19cm Harga              :  Rp 27.000,00 Watching you walk away, i think it's time to say goodbye, my dear...     Bagaimana perasaanmu saat seorang temanmu sama sekali nggak pernah ada dalam mood yang baik bersamamu? Selalu saja timbul amarah diantara kalian berdua, seolah-o...

Mengagumi dalam diam.

Pada akhirnya ia tersadar,   Tidak semua perlu diungkapkan oleh kata  Sebab ada yang tak ingin dibuat salah paham Yang membuat mereka semakin berjarak Oleh karenanya, ia memilih mengagumi  seseorang dalam diam.  - M