Langsung ke konten utama

Kaos Kaki Ajaib.

   Kaos kaki itu sering hilang. Bukan hilang karena dicuri, hanya menguap saja seolah embun yang lupa ke mana ia jatuh. Aku sudah terbiasa menemukan pasangannya tertinggal sendirian di laci, menggulung sendiri seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung pulang. 

  Anehnya, kaos kaki yang hilang itu selalu kembali. Kadang muncul di balik tas kerja yang tak ku buka berhari-hari, kadang terlipat rapi di atas kasur. Padahal aku yakin tidak meletakkannya di sana. Tidak bau apek, juga tidak kusut. Justru hangat, seperti baru dijemur di bawah terik matahari.

   Setiap kali ia kembali, aku sedang berada di hari yang paling melelahkan. Hari ketika kakiku ingin berhenti melangkah, dan pikiranku melayang entah ke mana. Seolah kaos kaki itu tahu: aku tak sedang kehilangan benda, hanya kehilangan arah. 

  "Kaos kakimu hilang lagi?" tanya Ria suatu pagi. Matanya melirik kakiku yang hanya terbalut satu kaos kaki abu-abu.

  "Iya. Yang satunya entah ke mana," jawabku sambil mengangkat bahu, berpura-pura tak peduli. 

   "Beli baru aja," katanya ringan. 

  Aku mengangguk, meski aku tahu aku tak akan melakukannya. Ada sesuatu dari kaos kaki itu yang selalu membuatku menunggu—seperti menanti kabar dari seseorang yang belum benar-benar pergi. Kaos kaki itu sudah menemaniku sejak dua tahun silam, sejak aku mulai terbiasa pulang tanpa ada yang menunggu.

   Sore itu aku pulang lebih larut dari biasanya. Hujan lebat membuat kakiku basah hingga pergelangan. Saat aku membuka pintu kamar, kaos kaki yang hilang itu sudah terlipat rapi  di atas kasur. 

  "Kamu dari mana?" gumamku pelan, sambil menertawakan diriku sendiri.

  Tentu saja ia tak menjawab. Namun entah kenapa, dadaku terasa lebih lega saat aku mengenakannya. Seolah sepasang kakiku akhirnya lengkap untuk  berjalan lagi. 

***

   Hingga di hari itu, kaos kakiku benar-benar tidak kembali. 

  Aku mencoba membuka laci berkali-kali,  membongkar tas kerja, bahkan mengangkat bantalku, barangkali kaos kaki itu terselip di sana. Tapi nihil. Malam itu, kakiku terbalut kaos kaki yang tidak sepasang. Dingin lantai terasa tidak seperti biasanya, seolah mengingatkanku pada sesuatu yang selama ini kuhindari.

 Besoknya, aku berangkat kerja tanpa menunggunya lagi. Di halte, aku merasa langkah kakiku terasa lebih lambat. Kepalaku dipenuhi dengan kemungkinan konyol—barangkali tugasnya sudah selesai. Pikiran itu yang membuat dadaku terasa sesak.

***

  Hari-hari setelahnya berjalan seperti biasa. Aku membeli sepasang kaos kaki baru, warnanya sama—abu-abu. Meski kini rasanya berbeda. Tak ada lagi yang muncul tiba-tiba di atas kasur, tak ada lagi kehangatan yang datang tanpa sebab. 

   Anehnya, aku tidak kecewa. Setiap pagi, aku berangkat dengan langkah yang masih pelan, tapi tidak ragu. 

  Sore itu, sebelum mematikan lampu kamar, aku membuka laci dan menatap sejenak ke dalamnya. Ada ruang kosong yang kini tak lagi terasa menuntut untuk diisi. Aku menutup laci itu dengan senyum kecil, lalu melangkah keluar.

  Aku tak tahu apakah ia yang selalu pulang, atau aku yang tak pernah benar-benar pergi.

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Walk Away - Dilaika Septy

Judul                :  Walk Away Penulis             :  Dilaika Septy Penerbit           :  Bentang Belia ( PT. Bentang Pustaka ) Terbit               :  November 2012 ISBN               :  978-602-9397-57-4 Tempat Terbit  :  Yogyakarta Tebal Buku      : VIII + 204 hlm ; 19cm Harga              :  Rp 27.000,00 Watching you walk away, i think it's time to say goodbye, my dear...     Bagaimana perasaanmu saat seorang temanmu sama sekali nggak pernah ada dalam mood yang baik bersamamu? Selalu saja timbul amarah diantara kalian berdua, seolah-o...

De Buron - Maria Jaclyn

PROLOG "Kalau kamu menyayangi seseorang, kamu enggak harus bersama dia untuk menjadi bahagia.Walaupun kalian berpisah,kamu pasti akan bahagia kalau melihatnya bahagia. Kurasa caramu menjadi bahagia salah, karena kulihat sekarang kamu cuma menyakiti dirimu sendiri," kata Ditya lagi.  Judul: De Buron Penulis: Maria Jaclyn Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2005 Jumlah Halaman: 248 Halaman Kategori: Novel ISBN: 979-22-1396-1 Ukuran: 20 cm x 13,5 cm Harga: Rp 26.500,00     Pernah nggak sih kalian ngerasain betapa takutnya didatangi oleh  "Buronan" ? Cemas, Takut, Khawatir pasti menghinggapi perasaan kalian. Perasaan yang serupa timbul pada diri Kimly, cewe baik dan supel, ketika sosok pria bernama Raditya datang ke kehidupannya, hingga akhirnya Ia menyadari akan suatu hal pada sosok Ditya. Novel “De Buron” merupakan salah satu novel romance berbakat karangan Maria Jaclyn,penulis novel berbakat tahun 2005. Novel ini mengangkat ...

Lukisan Hujan - Sitta Karina

Resensi Novel   Judul Novel                  :  Lukisan Hujan   Pengarang                  :  Sitta Karina   Penerbit                      :   Terrant Books Tahun                         : 2004   Genre                        :   Novel Remaja(Romance) Tebal buku                  :   386 halaman  ISBN                        :  979-3750-00-6 ·          Sinopsis Novel...