![]() |
| dreamstime.com |
Aku percaya bahwa dengan satu kata ajaib ini, hidupmu akan lebih tenang. Aku menemukannya tak sengaja, di halaman terakhir buku catatan tua milik ibu. Kertasnya telah menguning, ujung-ujung halamannya keriting, seperti menyimpan terlalu banyak rahasia.
Di antara daftar belanja dan catatan pengeluaran, ada satu kata yang ditulis lebih besar dari yang lain—ditebalkan menggunakan tinta pena berwarna merah.
"Sabar."
Aku tersenyum kecil. Kata itu terdengar klise, sering diucapkan orang-orang ketika tak tahu harus berkata apa. Namun bagiku, tulisan tangan Ibu terasa berbeda—lebih hidup dan penuh makna.
***
Pagi itu, suasana halte busway begitu ramai. Orang-orang berdesakkan memenuhi peron, saling berlomba mencari posisi paling depan.
Di tengah kerumuman, aku melihat seorang ibu paruh baya terhimpit di antara manusia berpakaian kantoran. Ketika bus datang, dorong-mendorong tak terelakkan. Tanpa disadari, ibu itu tersenggol hingga kantong belanjaannya terjatuh. Buah-buahan menggelinding di lantai halte.
Tak ada yang berhenti. Orang-orang berlalu begitu saja. Aku hampir ikut melangkah pergi, sampai kata itu kembali muncul di kepalaku.
Sabar.
Aku menunduk, memunguti buah-buahan yang berserakan, lalu menyerahkannya kembali kepadanya.
"Terima kasih banyak, Nak. Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca. Guratan halus di wajahnya tampak jelas. Senyumnya sederhana, tapi entah mengapa membuat dadaku terasa lebih ringan.
"Sama-sama, Bu. Ibu mau ke mana?" tanyaku penasaran.
"Saya mau menjenguk cucu saya, Nak. Ia sedang sakit dan dirawat di rumah sakit."
"Semoga cucunya lekas pulih ya, Bu."
"Terima kasih, Nak. Semoga harimu selalu beruntung," ucapnya sambil menepuk pelan bahuku.
***
Di rumah, aku membuka email dengan perasaan yang sama— tak terburu-buru, tak berharap berlebihan. Aku membacanya dengan sabar. Hari itu belum ada kabar baik. Biasanya aku akan kecewa, tapi kali ini aku menarik napas panjang.
Sabar, kataku pada diri sendiri.
Hari-hari berlalu. Aku mulai menyadari sesuatu. Kata itu tidak mengubah keadaanku secara ajaib. Masalah masih ada. Kekhawatiran masih datang. Namun kata itu mengubah caraku berjalan melewati semuanya.
Hingga suatu sore, sebuah email masuk. Singkat. Sederhana. Namun cukup membuat mataku berkaca-kaca.
Lamaran kerjaku diterima.
Aku teringat buku catatan Ibu. Teringat satu kata yang ia tinggalkan tanpa penjelasan panjang. Kini aku mengerti. Bukan karena kata itu punya kekuatan magis, melainkan karena ia mengajarkanku bertahan tanpa kehilangan harapan.
Kadang, yang kita butuhkan bukan seribu jawaban. Cukup satu kata ajaib—yang membuat kita tetap melangkah.
TAMAT

Komentar
Posting Komentar