Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Jingga.

pexels.com "Bunda!" Gadis kecil itu berlari ke arahku sambil tersenyum riang.  "Lihat, deh!" Mataku mengikuti arah telunjuknya, menuju atap rumah seng yang memantulkan cahaya senja.   "Lihat apa, Nak?" "Bunda, itu warna aku, ya?" tanyanya polos.  Aku tersenyum, meski lelah belum sempat benar-benar luruh. “Iya, Nak. Bahkan langit pun ingin mirip kamu." Jingga tertawa kecil, lalu duduk di depan rumah petak kami—rumah sempit berdinding tripleks dengan atap seng berkarat yang berdiri di tengah permukiman padat, namun selalu terasa hangat baginya.  Senja adalah waktu favorit Jingga. Bukan karena ia mengerti maknanya, melainkan karena langit berubah menjadi warna kesukaannya.  Ia belum tahu banyak tentang dunia. Ia belum mengerti apa itu kemiskinan. Ia juga tidak tahu kenapa ibunya kerap menghitung uang dengan wajah cemas.  Yang ia tahu, rumah itu adalah tempat paling aman di dunia.  Hingga pagi itu datang. Suara keras membelah udara. ...