![]() |
| pexels.com |
Gadis kecil itu berlari ke arahku sambil tersenyum riang.
"Lihat, deh!"
Mataku mengikuti arah telunjuknya, menuju atap rumah seng yang memantulkan cahaya senja.
"Lihat apa, Nak?"
"Bunda, itu warna aku, ya?" tanyanya polos.
Aku tersenyum, meski lelah dari seharian mencuci belum juga luruh.
“Iya, Nak. Langitnya lagi mirip kamu."
Jingga tertawa kecil, lalu duduk di depan rumah petak kami, rumah sempit berdinding tripleks dengan atap seng berkarat, yang berdiri di tengah permukiman padat dan tetap terasa hangat baginya.
Senja adalah waktu favorit Jingga. Bukan karena ia mengerti maknanya, melainkan karena langit berubah menjadi warna kesukaannya.
Ia belum tahu banyak tentang dunia. Ia belum mengerti apa itu kemiskinan. Ia juga tidak tahu mengapa ibunya kerap menghitung uang dengan wajah cemas. Yang ia tahu, rumahnya adalah tempat paling aman di dunia.
Di sudut ruang itu, Jingga sering tertawa karena hal-hal kecil, menggambar di lantai dengan pensil pendek, mencoret dinding dengan krayon, atau memintaku mendongeng cerita yang sama setiap malam. Bahkan, ia tak peduli pada dinding yang mulai lapuk atau atap yang bocor saat hujan turun.
***
Hingga pagi itu datang.
Suara keras membelah udara. Tidak seperti biasanya.
Lebih berat. Lebih dingin. Seolah tak memberi ruang untuk bertanya.
Aku terbangun lebih dulu. Jingga masih tertidur pulas. Wajahnya yang bulat dan polos membuat hatiku teriris.
Jantungku berdegup tak seperti biasanya. Dari celah pintu, kulihat orang-orang mulai keluar rumah dengan langkah tergesa.
"Bunda...?" suara kecil itu memanggil dari belakang.
Aku menoleh.
Jingga berdiri di ambang pintu sambil memeluk boneka kelincinya. Rambutnya masih berantakan, matanya belum sepenuhnya terjaga. Ia berjalan mendekat, lalu menggenggam ujung bajuku.
"Bunda, itu suara apa?" tanyanya, wajahnya mulai diliputi cemas.
Aku tidak langsung menjawab.
Di luar, teriakan mulai terdengar. Ada yang memanggil nama anaknya, ada yang memohon sambil memeluk pintu rumahnya yang sebentar lagi diratakan. Ada pula yang hanya terdiam dengan wajah kehilangan arah.
Suara mesin itu semakin dekat. Debu mulai berterbangan, pelan-pelan membuat napas terasa sesak. Suara logam beradu terdengar kasar. Dari kejauhan, kulihat alat berat itu bergerak perlahan, seolah tak mengenal apa yang akan hilang hari itu.
Beberapa orang berusaha menyelamatkan barang seadanya, mengangkat kasur, menggendong anak, atau sekadar berdiri kebingungan di depan rumah mereka sendiri. Tak ada yang benar-benar siap untuk pergi, dan tak ada pula yang bisa tetap tinggal.
Saat akhirnya kulihat, semuanya menjadi jelas. Hari itu akhirnya datang. Tak seorang pun siap, termasuk kami.
Aku berlutut di hadapan Jingga, memegang kedua pundaknya.
"Kita harus pergi, Nak," kataku pelan.
Tangisku hampir pecah, tapi kutahan sekuat tenaga. Aku tidak ingin Jingga melihat dunia runtuh dari mataku.
Matanya masih menatapku penuh tanya.
"Pergi ke mana, Bunda?"
Aku terdiam. Kugenggam kedua tangannya erat.
Ada banyak hal yang tidak bisa kujelaskan dengan bahasa yang ia mengerti.
Aku ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa kami hanya akan pergi sebentar lalu kembali seperti biasa. Tapi kata-kata itu terasa terlalu rapuh bahkan untuk kuucapkan. Aku berusaha tetap berdiri, meski di dalam diri sendiri, aku juga sedang kehilangan tempat pulang.
"Kamu ikut Bunda, ya?"
Ketika kami melangkah keluar, Jingga menoleh ke belakang. Boneka kelinci itu terlepas dari pelukannya, jatuh di lantai dekat pintu. Jingga sempat ingin mengambilnya kembali, tapi tanganku sudah lebih dulu menggenggamnya.
“Nanti kita ambil lagi, ya,” bisikku, meski aku sendiri tahu itu bukan janji yang bisa kutepati. Jingga tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu rumah itu lama, seolah masih ada bagian dari dirinya yang tertinggal di dalam sana.
Tangannya yang kecil kini kosong, tak lagi menggenggam apa pun. Aku bisa merasakan genggamannya di tanganku sedikit menguat, seakan ia sedang berusaha memahami sesuatu yang bahkan belum mampu ia mengerti sepenuhnya.
Rumah itu masih berdiri.
Masih menyimpan tawa, cerita sebelum tidur, dan segala hal kecil yang tak pernah kami anggap penting, sampai hari itu datang.
Lalu suara itu kembali terdengar. Semakin dekat.
Dan perlahan, satu per satu, yang semula tegak mulai runtuh.
Jingga tidak menangis. Ia hanya memandang, lalu berbisik,
"Bunda..."
Suaranya nyaris hilang.
"Rumah kita kenapa?"
Aku tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan arti kehilangan padanya.
***
Aku baru sadar, boneka kelinci itu tak lagi ada di pelukannya. Biasanya, benda itu tak pernah lepas dari tangannya, bahkan saat tidur.
Hari itu, tangannya kosong. Ia sempat melihat ke arah tangannya sendiri, seolah baru menyadari ada yang hilang.
Jingga duduk di atas tumpukan kardus, di antara orang-orang yang kini tak lagi memiliki tempat berteduh. Di tangannya, ia menggenggam sepotong roti yang mulai dingin.
Di sebelahnya, seorang anak kecil menangis.
Tanpa banyak kata, ia membagi dua rotinya, lalu menyodorkan separuhnya.
Tangis itu perlahan mereda.
Di sekitar kami, orang-orang duduk dengan sisa-sisa barang yang berhasil mereka bawa. Ada yang memeluk tas berisi pakaian, ada yang menggenggam map lusuh, dan ada pula yang datang dengan tangan kosong. Wajah-wajah itu tampak lelah, seolah belum sepenuhnya percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.
Langit sore itu kembali berubah warna.
Jingga.
Jingga menatapnya lama, seolah mencari sesuatu yang dulu pernah ia kenal.
"Bunda..."
Aku menoleh.
"Kalau nanti aku punya rumah..."
Ia berhenti sejenak.
"...semua orang boleh tinggal di sana."
Aku tidak langsung menjawab.
Kupandangi wajah kecil itu, yang beberapa hari lalu masih percaya bahwa rumah adalah sesuatu yang tak akan pernah hilang.
Angin sore berhembus pelan.
“Iya, Nak,” kataku akhirnya, nyaris seperti bisikan.
Aku menatap sekeliling.
Tak banyak yang tersisa selain debu dan barang-barang yang tertinggal.
Suara orang-orang mulai mereda. Pelan-pelan semuanya jadi sunyi.
Di kejauhan, beberapa anak masih bermain seperti biasa. Seolah hari ini tidak pernah terjadi.
Aku menarik napas pelan.
Ada yang tertinggal di dalam dada, tapi aku tak tahu harus menyebutnya apa.
Aku hanya berdiri lebih lama dari yang seharusnya.
Jingga kembali menatap langit.
Dulu, setiap senja datang, ia selalu tersenyum. Selalu menunjuk langit dengan wajah riang, seolah warna itu hanya miliknya seorang.
Kini ia hanya diam.
Matanya tetap menatap langit yang sama, tapi ada sesuatu yang berubah. Bukan pada warna itu, melainkan pada cara ia melihatnya.
Seolah ia mulai mengerti bahwa tidak semua yang indah bisa dimiliki, dan tidak semua yang hilang bisa kembali.
Untuk pertama kalinya, aku merasa warna langit sore itu tidak lagi sekadar indah.
Di tengah kehilangan yang bahkan belum sempat kami pahami, Jingga justru menyimpan sesuatu yang tidak ikut runtuh. Hari itu, meski kami kehilangan banyak hal, aku tahu kami masih memiliki satu sama lain.
Aku menggenggam tangannya erat.
Di bawah langit yang tetap berubah warna,
aku tahu,
selama ia masih mampu berharap,
kami belum benar-benar kehilangan segalanya.

Komentar
Posting Komentar