Langsung ke konten utama

Jingga.

pexels.com

"Bunda!"

Gadis kecil itu berlari ke arahku sambil tersenyum riang. 

"Lihat, deh!"

Mataku mengikuti arah telunjuknya, menuju atap rumah seng yang memantulkan cahaya senja.  

"Lihat apa, Nak?"

"Bunda, itu warna aku, ya?" tanyanya polos. 

Aku tersenyum, meski lelah belum sempat benar-benar luruh.

“Iya, Nak. Bahkan langit pun ingin mirip kamu."

Jingga tertawa kecil, lalu duduk di depan rumah petak kami—rumah sempit berdinding tripleks dengan atap seng berkarat yang berdiri di tengah permukiman padat, namun selalu terasa hangat baginya. 

Senja adalah waktu favorit Jingga. Bukan karena ia mengerti maknanya, melainkan karena langit berubah menjadi warna kesukaannya. 

Ia belum tahu banyak tentang dunia. Ia belum mengerti apa itu kemiskinan. Ia juga tidak tahu kenapa ibunya kerap menghitung uang dengan wajah cemas.  Yang ia tahu, rumah itu adalah tempat paling aman di dunia. 

Hingga pagi itu datang.

Suara keras membelah udara. Tidak seperti biasanya. 

Lebih berat. Lebih dingin. Seolah tidak memberi ruang untuk bertanya. 

Aku terbangun lebih dulu. Jingga masih tertidur pulas. Wajahnya yang bulat dan polos membuat hatiku teriris. 

Jantungku berdegup tak seperti biasanya. Dari celah pintu, kulihat orang-orang mulai keluar rumah dengan langkah tergesa. 

"Bunda..?" suara kecil itu memanggil dari belakang. 

Aku menoleh.

Jingga berdiri di ambang pintu, rambutnya masih berantakan, matanya belum sepenuhnya terjaga. Ia berjalan mendekat, lalu menggenggam ujung bajuku. 

"Bunda, itu suara apa?" tanyanya, wajahnya mulai diliputi cemas. 

Aku tidak langsung menjawab. 

Di luar, teriakan mulai terdengar. Ada yang memanggil nama, ada yang memohon. Ada pula yang hanya terdiam dengan wajah kehilangan arah. 

Suara mesin itu semakin dekat. 

Dan ketika akhirnya kulihat—semua menjadi jelas. Hari itu benar-benar datang, dan tak seorang pun siap, termasuk kami. 

Aku berlutut di hadapan Jingga, memegang kedua pundaknya. 

"Kita harus pergi, Nak," kataku pelan, berusaha menahan tangis. 

Matanya masih menatapku penuh tanya. 

"Pergi ke mana, Bunda?" 

Aku terdiam. Kugenggam kedua tangannya erat. 

Ada banyak hal yang tidak bisa kujelaskan dengan bahasa yang ia mengerti. 

"Kamu ikut Bunda, ya?" 

Ketika kami melangkah keluar, Jingga menoleh ke belakang. 

Rumah itu masih berdiri. 

Masih menyimpan tawa, cerita sebelum tidur, dan segala hal kecil yang tak pernah kami anggap penting—sampai hari itu datang. 

Lalu suara itu kembali terdengar. Semakin dekat. 

Dan perlahan, satu per satu, yang semula tegak mulai runtuh. 

Jingga tidak menangis. Ia hanya memandang, lalu berbisik,

 "Bunda..." 

Suaranya nyaris hilang.

 "Rumah kita kenapa?"

Aku tidak menjawab. 

Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu bagaimana menjelaskan arti kehilangan. 

 ***

Jingga duduk di atas tumpukan kardus, di antara orang-orang yang kini tak lagi memiliki tempat tinggal. Tangannya menggenggam sepotong roti yang sudah mulai dingin. Di sebelahnya, seorang anak kecil menangis. 

Jingga menoleh. Tanpa banyak kata, ia membagi dua rotinya, lalu memberikan sepotong kepada anak itu. 

Tangisnya perlahan mereda. 

Langit sore itu kembali berubah menjadi jingga. 

 Jingga menatapnya lama. 

"Bunda..." 

"Kalau nanti aku punya rumah..."

Ia berhenti sejenak. 

"...aku mau semua orang boleh tinggal disana."

Aku tidak menjawab. 

Aku hanya menggenggam tangan kecil itu erat—seolah tahu, dari hal sederhana itulah dunia bisa berubah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Walk Away - Dilaika Septy

Judul                :  Walk Away Penulis             :  Dilaika Septy Penerbit           :  Bentang Belia ( PT. Bentang Pustaka ) Terbit               :  November 2012 ISBN               :  978-602-9397-57-4 Tempat Terbit  :  Yogyakarta Tebal Buku      : VIII + 204 hlm ; 19cm Harga              :  Rp 27.000,00 Watching you walk away, i think it's time to say goodbye, my dear...     Bagaimana perasaanmu saat seorang temanmu sama sekali nggak pernah ada dalam mood yang baik bersamamu? Selalu saja timbul amarah diantara kalian berdua, seolah-o...

Mengagumi dalam diam.

Pada akhirnya ia tersadar,   Tidak semua perlu diungkapkan oleh kata  Sebab ada yang tak ingin dibuat salah paham Yang membuat mereka semakin berjarak Oleh karenanya, ia memilih mengagumi  seseorang dalam diam.  - M

De Buron - Maria Jaclyn

PROLOG "Kalau kamu menyayangi seseorang, kamu enggak harus bersama dia untuk menjadi bahagia.Walaupun kalian berpisah,kamu pasti akan bahagia kalau melihatnya bahagia. Kurasa caramu menjadi bahagia salah, karena kulihat sekarang kamu cuma menyakiti dirimu sendiri," kata Ditya lagi.  Judul: De Buron Penulis: Maria Jaclyn Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2005 Jumlah Halaman: 248 Halaman Kategori: Novel ISBN: 979-22-1396-1 Ukuran: 20 cm x 13,5 cm Harga: Rp 26.500,00     Pernah nggak sih kalian ngerasain betapa takutnya didatangi oleh  "Buronan" ? Cemas, Takut, Khawatir pasti menghinggapi perasaan kalian. Perasaan yang serupa timbul pada diri Kimly, cewe baik dan supel, ketika sosok pria bernama Raditya datang ke kehidupannya, hingga akhirnya Ia menyadari akan suatu hal pada sosok Ditya. Novel “De Buron” merupakan salah satu novel romance berbakat karangan Maria Jaclyn,penulis novel berbakat tahun 2005. Novel ini mengangkat ...