Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Jingga.

pexels.com "Bunda!" Gadis kecil itu berlari ke arahku sambil tersenyum riang.  "Lihat, deh!" Mataku mengikuti arah telunjuknya, menuju atap rumah seng yang memantulkan cahaya senja.   "Lihat apa, Nak?" "Bunda, itu warna aku, ya?" tanyanya polos.  Aku tersenyum, meski lelah belum sempat benar-benar luruh. “Iya, Nak. Bahkan langit pun ingin mirip kamu." Jingga tertawa kecil, lalu duduk di depan rumah petak kami—rumah sempit berdinding tripleks dengan atap seng berkarat yang berdiri di tengah permukiman padat, namun selalu terasa hangat baginya.  Senja adalah waktu favorit Jingga. Bukan karena ia mengerti maknanya, melainkan karena langit berubah menjadi warna kesukaannya.  Ia belum tahu banyak tentang dunia. Ia belum mengerti apa itu kemiskinan. Ia juga tidak tahu kenapa ibunya kerap menghitung uang dengan wajah cemas.  Yang ia tahu, rumah itu adalah tempat paling aman di dunia.  Hingga pagi itu datang. Suara keras membelah udara. ...

Satu Kata Ajaib.

dreamstime.com      A ku percaya bahwa dengan satu kata ajaib ini, hidupmu akan lebih tenang. Aku menemukannya tak sengaja, di halaman terakhir buku catatan tua milik ibu. Kertasnya telah menguning, ujung-ujung halamannya keriting, seperti menyimpan terlalu banyak rahasia.       Di antara daftar belanja dan catatan pengeluaran, ada satu kata yang ditulis lebih besar dari yang lain—ditebalkan menggunakan tinta pena berwarna merah.       "Sabar."      Aku tersenyum kecil. Kata itu terdengar klise, sering diucapkan orang-orang ketika tak tahu harus berkata apa. Namun bagiku, tulisan tangan Ibu terasa berbeda—lebih hidup dan penuh makna. ***      Pagi itu, suasana halte busway begitu ramai. Orang-orang berdesakkan memenuhi peron, saling berlomba mencari posisi paling depan.         Di tengah kerumuman, aku melihat seorang ibu paruh baya terhimpit di antara manusia berpakaian kantoran. Ketika ...

Kaos Kaki Ajaib.

     K aos kaki itu sering hilang. Bukan hilang karena dicuri, hanya menguap saja seolah embun yang lupa ke mana ia jatuh. Aku sudah terbiasa menemukan pasangannya tertinggal sendirian di laci, menggulung sendiri seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung pulang.       Anehnya, kaos kaki yang hilang itu selalu kembali. Kadang muncul di balik tas kerja yang tak ku buka berhari-hari, kadang terlipat rapi di atas kasur. Padahal aku yakin tidak meletakkannya di sana. Tidak bau apek, juga tidak kusut. Justru hangat, seperti baru dijemur di bawah terik matahari.      Setiap kali ia kembali, aku sedang berada di hari yang paling melelahkan. Hari ketika kakiku ingin berhenti melangkah, dan pikiranku melayang entah ke mana. Seolah kaos kaki itu tahu: aku tak sedang kehilangan benda, hanya kehilangan arah.       "Kaos kakimu hilang lagi?" tanya Ria suatu pagi. Matanya melirik kakiku yang hanya terbalut satu kaos k...

Perempuan Berpayung Senja.

adobe.com Secangkir kopi hitam masih tersaji hangat di hadapanku. Aroma Americano menyengat hingga ke kepala. Suara klien dari balik ponsel masih berputar-putar di telingaku. "Sial! Ditolak lagi." Aku menyeruput cairan pekat itu dengan perasaan getir. Rasa pahit dan asam saling beradu di kerongkongan. Sudah keempat kalinya aku memperbaiki desain website sesuai permintaan klien. "Bukan font itu." "Biru saja latarnya." "Besok harus sudah jadi." Tut. Sambungan terputus begitu saja. Aku menatap layar ponsel yang kini gelap, lalu menghela napas panjang. “ARGH!!” Aku membanting ponselku ke sofa dengan kesal. Tanpa kusadari, ada sepasang mata yang melirik ke arahku dengan bingung, sebelum kembali berkutat dengan laptop di hadapannya. *** Aku melirik jam tangan. Pukul empat lewat lima belas menit. Tak terasa sudah tiga jam aku berkutat dengan laptop. Aku segera menutup laptop dan berkemas, lalu bergegas menuju pintu keluar kafe. ...