Satu Kata Ajaib.

 

republika.co.id

Aku pernah percaya ada satu kata sederhana yang bisa membuat hidup terasa lebih ringan. Aku menemukannya tanpa sengaja—di halaman terakhir buku catatan milik Ibu.

Kertasnya sudah menguning, sudut-sudutnya mulai melengkung di beberapa bagian. Di antara daftar belanja dan angka-angka pengeluaran, ada satu kata yang ditulis lebih besar dari yang lain, ditebalkan dengan tinta merah.

“Sabar.”

Aku sempat tersenyum. Kata itu terlalu sering diucapkan saat orang tak tahu lagi harus berkata apa. Tapi entah mengapa, melihat tulisan tangan Ibu, kata itu terasa berbeda. Tidak sekadar nasihat, lebih seperti sesuatu yang pernah ia pegang erat.

***

Pagi itu halte busway penuh seperti biasa. Orang-orang berdiri rapat, sebagian melongok ke arah jalan, sebagian lagi sibuk dengan ponsel mereka. Semua tampak ingin segera naik lebih dulu.

Di tengah kerumunan, aku melihat seorang ibu paruh baya. Tubuhnya sedikit terhimpit di antara barisan pekerja kantoran.

Begitu bus datang, orang-orang langsung merapat ke pintu. Dorongan kecil mulai terasa. Di tengah keramaian, kantong belanja ibu itu terlepas dari tangannya. Buah-buahan jatuh, menggelinding ke berbagai arah.

Tak satu pun berhenti.

Aku hampir ikut melangkah masuk ke dalam bus. Sampai kata itu muncul lagi di pikiranku.

Sabar.

Aku menghela napas, lalu menepi. Aku jongkok dan memunguti buah yang berserakan. Beberapa sudah penyok, sebagian lagi kotor oleh debu.

“Ini, Bu,” kataku sambil menyerahkan kantongnya kembali.

Ia menerimanya dengan kedua tangan. “Terima kasih, Nak… terima kasih banyak.”

Senyumnya sederhana, tapi matanya basah. Ada garis-garis lelah di wajahnya, namun juga kelegaan yang sulit ia jelaskan. Anehnya, dadaku ikut terasa ringan.

“Ibu mau ke mana?” tanyaku.

“Mau ke rumah sakit. Menjenguk cucu saya. Lagi sakit,” jawabnya.

Aku mengangguk. “Semoga cepat sembuh ya, Bu.”

“Amin. Terima kasih, Nak. Semoga harimu juga baik,” katanya, sambil menepuk bahuku.

***

Di rumah, aku membuka email seperti biasa. Tidak terburu-buru. Tidak juga terlalu berharap.

Kubaca satu per satu dengan pelan.

Belum ada kabar.

Biasanya, aku akan langsung merasa kecewa. Tapi kali ini tidak. Aku hanya menutup layar, lalu bersandar.

Sabar, kataku dalam hati.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Tidak ada perubahan besar. Masalah masih ada.

Tapi ada yang berubah, dari cara aku melewatinya.

Aku tidak lagi tergesa-gesa, tidak lagi memaksa keadaan.

Aku hanya berjalan pelan, tapi tidak berhenti.

***

Hingga suatu sore, sebuah email masuk.

Singkat. Tidak lebih dari beberapa baris.

Aku membacanya dua kali, memastikan aku tidak salah membacanya.

Lamaran kerjaku diterima.

Aku terdiam cukup lama. Lalu tanpa sadar aku tersenyum.

Pikiranku kembali ke buku catatan Ibu. Ke halaman terakhir itu.

Sekarang aku mengerti.

Bukan karena kata itu ajaib. Bukan karena ia bisa mengubah hidup dalam sekejap.

Tapi karena ia mengajarkan satu hal sederhana: bertahan tanpa kehilangan harapan.

Kadang, kita memang tidak butuh banyak jawaban.

Cukup satu kata, agar kita tetap melangkah.

 

Komentar