Langsung ke konten utama

Postingan

Tugas.

Gemuruh suaramu terngiang di telingaku Sejuta tanya menghampiri benakku Sebab kehadiranmu selalu meninggalkan tanya Belum lagi jika kamu mengajak kawanmu Kalian berlomba untuk menjadi nomor satu di hatiku  Sedangkan aku dibiarkan untuk memilih salah satu diantaramu Biarlah ini mengalir seperti air Dan jangan memaksaku untuk menjawab alasannya  Percayalah,  Tak perlulah aku untuk berucap Sebab diantara kalian,  Aku pilih kamu yang pantas diprioritaskan. -M  Serpong, 22 Oktober 2019.

Kopi.

Ijinkan ku seduh kerinduanmu dalam cangkirku Biarkan rindu ini menjadi candu Saling beradu, Pada tegukan kopi terakhirku. -M

Angin.

Kehadiranmu bagaikan angin, Berhembus di tempat yang sama Kemudian berlalu, Di arah yang berbeda. Niatmu bukan lagi untuk menetap. Melainkan hanya sekedar singgah, kemudian pergi. -M Serpong, 5 Oktober 2019. 

Berjuang itu Melelahkan.

Berjuang ini melelahkan.. Seringkali membuat manusia mengeluh karenanya. Akan tetapi, Hal terpenting dibalik setiap kelelahan ialah Kita cuma bisa berdiri paling kuat diatas kaki sendiri. -M Jakarta, 3 Oktober 2019.

Kamu Terbentur, Untuk Dibentuk.

Jangan pernah berpikir bahwa ketika dirimu jatuh,  Kamu akan menjadi hancur dan putus asa.  Kamu hanya akan menambah kesulitan baru dalam hidupmu.  Tetapi berpikirlah bahwa ketika dirimu jatuh,  Kamu hanya terbentur. Terbentur... terbentur... kemudian dibentuk.  Jika kelak dirimu merasa putus asa,  Ingatlah bahwa; Apapun kesulitan dalam hidupmu,  pastikan bahwa kamu tidak kehilangan kedamaian dalam hatimu.  -M Serpong, 29 September 2019. 

Ibu.

Beliau.. Adalah pahlawan dalam segala musim kehidupan. Yang memberi kekuatan di kala badai datang menerpa. Yang memberi kesejukan di kala hati kering kerontang Kehadirannya bak pelangi setelah hujan; Penuh hangat dan kasih sayang.  Yang memberi keindahan di tiap lembar kehidupan. Entah, Berapa banyak air mata duka yang dibendung Dibalik kedua matanya yang teduh. Ibu.. Terima Kasih. Telah mengenaliku tentang sebuah perjalanan. Sebuah kehidupan yang penuh akan,  Makna. Serpong, 15 Agustus 2019.

Puisi Aku.

pixabay/free-photos Aku si lemah Meronta hingga banjir air mata Air mata penuh iba Melihat diriku berkaca pada masa lalu yang penuh derita Aku si pemalu Berdiam dalam ruang lingkup yang penuh tanya "Kemana aku harus melangkah?" Bagiku dalam diam aku bersuara Karena diam mendengarkan celotehku, yang penuh kebingungan Aku si pembajak, membajak segala hak mereka merampas segala milik mereka menghancurkan kebahagiaan mereka hingga tak tersisa, setitik  kebebasan untuk mereka Aku tertawa melihat hidupku yang lalu Yang tertindas, tercabik, bahkan terpecah belah oleh ucapan dan tindak-tanduk mereka, yang menyayat hati Kini aku.. bukan aku yang dulu. Melangkah maju, melawan arus kepahitan, yang mampu memutus nadi kebahagiaanku, kelak. Serpong, 3 Agustus 2019.