Mungkin saja,
Bagimu, melupakan merupakan hal paling sederhana.
Akan tetapi,
bagiku, melupakan tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Butuh waktu yang sangat lama,
agar aku benar-benar bisa lupa.
Perlu cara-cara yang tidak biasa, melainkan yang luar biasa,
untuk melupakannya.
Hal-hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya,
pada siapapun.
Dan perlu kekuatan lebih untuk berhasil melakukannya.
Memang benar,
melupakan seseorang yang amat kita cintai,
seperti halnya melewati jalan berlubang.
Kita perlu berhati-hati melewati lubang-lubang tersebut.
Baik yang terlihat maupun yang tersembunyi,
Yang mampu menjatuhkan kita kapan saja,
pada kenangan masa lalu.
Jika suatu hari aku ditanya,
"Apakah kamu telah mengikhlaskannya bersama perempuan itu?"
Jawabanku tetaplah sama,
"Tidak."
Tidak akan pernah, sampai kapanpun itu.
Sebab wanita mana yang rela diduakan hatinya oleh pria yang amat ia percaya?
Bahkan jika pada akhirnya,
pria itu memilih perempuan yang mengetahui seluruh rahasiamu,
seluruh isi hatimu tentang pria yang amat kamu cintai.
Dengan alasan, "Aku lebih mencintai wanita itu" ?
Dialah satu-satunya perempuan,
yang kupikir mampu menjaga kepercayaanku padanya.
Ternyata dugaanku selama ini salah.
Sekeras apapun hati seorang wanita menolak,
pada akhirnya ia tetap mengingkari kepercayaan yang telah diberikan.
Atas dasar cinta.
Cinta yang buta, nampaknya.
Lantas, mengapa aku memilih menjauhinya?
Bukan berarti aku seorang pecundang,
Bukan berarti aku mengaku kalah dengan perempuan tersebut.
Tidak sama sekali.
Akan tetapi,
aku baru saja mengalahkan ego terbesarku,
yakni untuk memiliki pria itu.
Pria yang amat aku cintai.
Bukan berarti pula,
aku membenci keberadaan wanita itu.
Tidak, sama sekali.
Hanya saja aku kecewa dengan sikapnya.
Dan yang paling tidak dapat kuterima.
Ia mengambil pria yang selama ini kuceritakan padanya.
Tragis, bukan?
Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri dari orang-orang yang salah.
Orang-orang yang hanya ingin menghancurkan masa mudaku,
dengan tindakan-tindakan tidak terpuji.
Menduakan hati, misalnya.
Perlu kamu ketahui,
Dihianati oleh orang-orang yang amat kamu percaya,
meninggalkan luka yang tidak biasa.
Melainkan luka yang amat parah.
Butuh waktu yang sangat lama,
hingga luka itu benar-benar sembuh.
Kamu tahu?
Aku lebih memilih cara tragis untuk melupakan seseorang,
yakni dengan mengasingkan 'dirinya' dari kehidupanku.
Dengan tidak menatap matanya,
bahkan berniat untuk saling sapa.
Dengan tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.
Aku memilih pergi setiap kali ia mendekat.
Setiap kali namanya muncul di ponselku,
aku selalu menghapusnya.
Bahkan, kontaknya sekalipun.
Aku memilih untuk menutup telingaku rapat-rapat,
ketika aku mendengar suaranya.
Dengan berpura-pura tidak mengenalinya.
Bahkan mengingat namanya.
Dengan bersikap acuh terhadapnya, bahkan seolah membencinya.
Dengan menghapus seluruh kenangan dengannya.
Bagiku, aku dapat melupakannya.
Dengan cara yang amat tragis,
Aku mampu melupakan sosok yang amat sulit dilupakan.
Aku selalu mengingatkan diriku bahwa,
Aku tidak akan bisa kembali padanya.
Meski nantinya ia memohon dengan ratap tangis,
menyesali segala perbuatan yang dulu pernah ia lakukan padaku.
Sebab,
tidak ada yang lebih buruk dibandingkan harus menjalin hubungan kembali dengan seseorang yang telah melukai dan menghancurkan hati wanita dalam sekali waktu.
Meski itu hanya sebatas teman.
Bagiku,
tidak ada yang lebih tragis daripada mengasingkan seseorang yang amat kamu kenali sepanjang hidupmu. Terlebih, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada diasingkan oleh seseorang yang dulunya amat mencintaimu.
Serpong, 27 Februari 2018,
M.
Bagimu, melupakan merupakan hal paling sederhana.
Akan tetapi,
bagiku, melupakan tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Butuh waktu yang sangat lama,
agar aku benar-benar bisa lupa.
Perlu cara-cara yang tidak biasa, melainkan yang luar biasa,
untuk melupakannya.
Hal-hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya,
pada siapapun.
Dan perlu kekuatan lebih untuk berhasil melakukannya.
Memang benar,
melupakan seseorang yang amat kita cintai,
seperti halnya melewati jalan berlubang.
Kita perlu berhati-hati melewati lubang-lubang tersebut.
Baik yang terlihat maupun yang tersembunyi,
Yang mampu menjatuhkan kita kapan saja,
pada kenangan masa lalu.
Jika suatu hari aku ditanya,
"Apakah kamu telah mengikhlaskannya bersama perempuan itu?"
Jawabanku tetaplah sama,
"Tidak."
Tidak akan pernah, sampai kapanpun itu.
Sebab wanita mana yang rela diduakan hatinya oleh pria yang amat ia percaya?
Bahkan jika pada akhirnya,
pria itu memilih perempuan yang mengetahui seluruh rahasiamu,
seluruh isi hatimu tentang pria yang amat kamu cintai.
Dengan alasan, "Aku lebih mencintai wanita itu" ?
Dialah satu-satunya perempuan,
yang kupikir mampu menjaga kepercayaanku padanya.
Ternyata dugaanku selama ini salah.
Sekeras apapun hati seorang wanita menolak,
pada akhirnya ia tetap mengingkari kepercayaan yang telah diberikan.
Atas dasar cinta.
Cinta yang buta, nampaknya.
Lantas, mengapa aku memilih menjauhinya?
Bukan berarti aku seorang pecundang,
Bukan berarti aku mengaku kalah dengan perempuan tersebut.
Tidak sama sekali.
Akan tetapi,
aku baru saja mengalahkan ego terbesarku,
yakni untuk memiliki pria itu.
Pria yang amat aku cintai.
Bukan berarti pula,
aku membenci keberadaan wanita itu.
Tidak, sama sekali.
Hanya saja aku kecewa dengan sikapnya.
Dan yang paling tidak dapat kuterima.
Ia mengambil pria yang selama ini kuceritakan padanya.
Tragis, bukan?
Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri dari orang-orang yang salah.
Orang-orang yang hanya ingin menghancurkan masa mudaku,
dengan tindakan-tindakan tidak terpuji.
Menduakan hati, misalnya.
Perlu kamu ketahui,
Dihianati oleh orang-orang yang amat kamu percaya,
meninggalkan luka yang tidak biasa.
Melainkan luka yang amat parah.
Butuh waktu yang sangat lama,
hingga luka itu benar-benar sembuh.
Kamu tahu?
Aku lebih memilih cara tragis untuk melupakan seseorang,
yakni dengan mengasingkan 'dirinya' dari kehidupanku.
Dengan tidak menatap matanya,
bahkan berniat untuk saling sapa.
Dengan tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.
Aku memilih pergi setiap kali ia mendekat.
Setiap kali namanya muncul di ponselku,
aku selalu menghapusnya.
Bahkan, kontaknya sekalipun.
Aku memilih untuk menutup telingaku rapat-rapat,
ketika aku mendengar suaranya.
Dengan berpura-pura tidak mengenalinya.
Bahkan mengingat namanya.
Dengan bersikap acuh terhadapnya, bahkan seolah membencinya.
Dengan menghapus seluruh kenangan dengannya.
Bagiku, aku dapat melupakannya.
Dengan cara yang amat tragis,
Aku mampu melupakan sosok yang amat sulit dilupakan.
Aku selalu mengingatkan diriku bahwa,
Aku tidak akan bisa kembali padanya.
Meski nantinya ia memohon dengan ratap tangis,
menyesali segala perbuatan yang dulu pernah ia lakukan padaku.
Sebab,
tidak ada yang lebih buruk dibandingkan harus menjalin hubungan kembali dengan seseorang yang telah melukai dan menghancurkan hati wanita dalam sekali waktu.
Meski itu hanya sebatas teman.
Bagiku,
tidak ada yang lebih tragis daripada mengasingkan seseorang yang amat kamu kenali sepanjang hidupmu. Terlebih, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada diasingkan oleh seseorang yang dulunya amat mencintaimu.
Serpong, 27 Februari 2018,
M.
Comments
Post a Comment